Jumat, 31 Oktober 2008

MEMILIH PEMIMPIN YANG BERWIBAWA DAN NEGARAWAN SEJATI

Disebuah perempatan jalan terpampang besar sebuah baliho yang menandakan bahwa orang yang ada di dalamnya adalah seorang politisi yang sudah dapat di pastikan akan mengikuti pesta akbar lima tahunan di negeri ini.

Ya..memang bukan pemandangan asing lagi dalam beberapa bulan terahir ini bila kita melihat banyaknya baliho besar ataupun kecil yang “ menghiasi “ sepanjang jalan dan tempat – tempat strategis lainnya. Karena memang itulah fenomena yang sedang terjadi menjelang pemilu 2009 yang tinggal beberapa bulan lagi ini.

Sosialisasi guna mencari simpati dari masyarakat yang akan memilih tentu merupakan sebuah keharusan bagi para politisi yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif atau yang akan mencalonkan diri sebagai Calon Presiden 2009. Dan memasang baliho , bendera serta berbagai pernak pernik partai lainnya di pinggir jalan sepertinya masih menjadi pilihan utama bagi para politisi tersebut. Mungkin karena biaya yang di keluarkan masih lebih kecil jika di bandingkan dengan memasang iklan di media massa. Namun sebuah konsekuensi tentu harus kita terima bahwa kota kita akan menjadi lebih semrawut oleh iklan politik tersebut.

Lalu efektifkah pemasangan baliho di pinggir jalan itu untuk merebut hati rakyat  ? Dalam hal ini penulis tentu tidak akan menjawabnya, karena memang itu menjadi bagian dari pekerjaan lembaga survey untuk mencoba mencari jawabnya.

Namun satu hal yang cukup mengherankan dari pemasangan iklan politik dari para politisi itu adalah masih besarnya ketidakpercayaan diri pada diri mereka. Tentu hal ini tidak berlaku umum tapi ada beberapa baliho yang membingungkan yaitu ketika kita melihat gambar seoarang calon yang kemudian di belakangny ada lagi gambar orang lain yang di buat sebagai latar belakangnya.

Sebuah pertanyaan jenaka kemudian timbul, “ ini yang akan menjadi pemimpin gambar yang di depan atau yang di belakangnya “

Ironis memang disaat sekarang ini masih ada calon pemimpin yang mencoba mencari simpati rakyatnya dengan mengelu – elukan prestasi dan kebesaran orang tua atau keluarganya yang masa keemasanya telah berahir atau hampir berahir. Artinya seakan – akan bangsa ini akan ia bawa kembali ke nostalgia masa lalu. Dan pada bagian lain masyarakatpun ia giring untuk kembali larut pada nostalgia itu.

Sebagai bangsa yang besar kita memang harus menghargai jasa para pahlawan dan pendiri bangsa ini. Caranya tentu dengan membangun dan mencoba untuk terus melangkah kearah yang lebih baik menuju masa depan yang di cita – citakan oleh para pahlawan tersebut.

Anak pahlawan tentu tidak dilarang untuk memimpin negeri ini, sebagaimana anak bangsa lainnya mereka punya kesempatan sama dan punya hak yang sama untuk itu. Namun satu hal yang terpenting adalah bahwa tentu kita berharap mereka punya kepercayaan diri, tidak hanya berambisi dan cobalah menempatkan orang tuanya yang pahlawan tersebut sebagai pahlawan bangsa dan bukan pahlawan keluarga. Janganlah memanfaatkan kebesaran masa lalu mereka, karena masa lalu mereka adalah masa lalu semua bangsa. Mereka menjadi besar karena rakyat, dan mereka dulu berjuang bersama rakyat. Dengan demikian maka sungguh sebuah penghianatan kepada rakyat jika kemudian kebesaran itu dimanfaatkan sendiri oleh keluarganya untuk kepentingan politik.

Bangsa ini butuh perubahan, dan perubahan itu adalah kemajuan bangsa. Perubahan tentu tidak dapat hanya di artikan sebagai pergantian kepemimpinan. Apalah artinya pergantian presiden kalau kemudian perubahan yang terjadi hanya orangnya. Kita mengharapkan semoga pada 2009 nanti presiden dan pemerintahan terpilih dapat melanjutkan pembangunan dengan tidak terlalu focus pada hal – hal yang telah kedaluarsa atau masa lalu.

 

Kita semua bangga dengan Indonesia yang berwibawa, tidak cengeng, tidak grasah – grusuh. Untuk itu kita harus memilih pemimpin yang juga berwibawa, bermental baja, dan seorang negarawan sejati yang mendahulukan kepentingan bangsa yang lebih besar dari hanya sekedar kepentingan politik sesaat demi menjaga popularitas.

Kita bangga bila melihat seorang pemimpin yang rela di hujat karena kebijakan yang tidak popular, tapi kemudian dapat menunjukan kepada rakyat bahwa kebijakan itu adalah demi penyelamatan bangsa secara keseluruhan.

 

Minggu, 26 Oktober 2008

PENGURANGAN PNS

Menjadi Pegawai Negeri ( PNS ) di Indonesia sampai dengan saat ini masih sangat dominan di harapkan oleh sebagian besar masyarakat kita. Status sosial seorang PNS masih dirasakan sebagai sebuah kehormatan. Pemerintahpun setiap tahun tidak henti - hentinya menyediakan Formasi untuk PNS tersebut.

Lalu pertanyaannya adalah " dari besarnya anggaran untuk PNS menyangkut gaji dan lain - lain adakah sesuatu yang lebih telah di hasilkan untuk bangsa ini "

Jawaban yang tepat hanya akan dapat kita temukan jika kita cemat dalam melihat keseharian dari para PNS itu sendiri. 
Kita dapat saksikan betapa banyak para PNS yang "berkeliaran" seakan tidak ada lagi pekerjaan yang dapat ia lakukan di kantor. Tidak sedikit pula para PNS tersebut yang bahkan hanya hadir di kantor pada saat gajian, dan kalaupun  mereka ada di kantor ternyata pekerjaannya hanyalah duduk dan bercengrama tanpa sadar bahwa mereka menjadi PNS dan di gaji oleh Negara  untuk mengurusi masyarakat.

Ironis memang jika kemudian kita masih sering mendengar berita bahwa masih ada kekurangan tenaga PNS, seakan Negeri ini sudah tidak mampu lagi menciftakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya selain menjadi PNS.

Dalam hal ini penulis berpandangan bahwa bukan sesuatu yang salah kalau kemudian pemerintah mengurangi anggaran Negara untuk PNS. Tentu bukan berarti gaji PNS harus di turunkan, akan tetapi mulailah untuk mengefektifkan kinerja dari PNS yang telah ada dan kemudian secara berangsur - angsur dapat mengurangi jumlah PNS agar PNS yang nanti ada jumlah nya memang sesuai dengan job dan kebutuhan di mayarakat.

Kedepan kita semua berharap agar tidak lagi kita jumpai PNS yang tidak punya meja. Dan kalaupun ada penerimaan PNS baru cukup untuk menggantikan PNS yang pensiun saja, kecuali jika itu untuk GURU dan TENAGA KESEHATAN. 

Pada ahirnya  penulis sangat berharap kepada generasi muda yang akan datang agar jangan terlalu banyak yang becita - cita untuk menjadi PNS, tapi mari kita bersama - sama mengganti cita - cita kita untuk menjadi seorang Profesional yang dapat menciftakan lapangan pekerjaan, sehingga kita dapat membangun bangsa ini tanpa harus memakai seragam kebesaran.